Rabu, 15 April 2015

MEMAHAMI TASAWUF
Resume ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Aqidah Akhlak di MTs/MA”


Di Susun Oleh:
Sifa Ma’rifat
Sarwindah
Dyah Ayu Sri Handayani
Nur Hidayat

Dosen Pengampu:
Ahmad Faruq, M.Fil.I
Kelas TB.G/5

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
NOVEMBER 2014

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Tasawuf secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha untuk mensucikan jiwa sesuci mungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran-Nya senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan. Sebagai ilmu, Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahuibagaimana mensucikan jiwa, menjernihkan akhlaq, membangun dhahir dan bathin untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apapengertiantasawuf?
2.      Apadasardansumberdaritasawuf?
3.      Bagaimanaesensidaritasawuf?
4.      Apasajamacam-macamtasawuf?
5.      Perilakuapa yang tercermindaritasawuf?











PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tasawuf
1.      Pengertian menurut Etimologi (bahasa)
a.       Berasal dari kata ahli Al-Suffah
      Adalah sebutan bagi orang-orang yangpada zaman Rasulullah  SAW. Hidup di sebuah gubuk yang dibangun oleh Rasulullah SAW. di sekitar masjid Madinah, mereka ikut nabi saat hijrah dariMekah ke Madinah. Karena hijrah dengan meninggalkan harta benda mereka, mereka hidup miskin dan bapa, pada akhirnya mereka bertawakkal (berserah diri) dan mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Mereka tinggal disekitar masjid nabi dan tidur diatas bangku yang terbuat dari batu dan pelana yang disebut suffah sebagai bantalnya.
b.      Berasal dari kata Shafa’ (suci bersih)
      Adalah sekelompok orang yang menyucikan hati dan jiwanya karena Allah. Sufi bererti orang-orang yang hati dan jiwanya suci bersih dan disinari cahaya hikmah, tauhiddan kesatuan dengan Allah.
c.       Berasal dari kata Shuf (pakaian dari bulu domba atau wol)
      Mereka disebut sufi karena memakai kain yang terbuat dari bulu domba. Pakaian yang terbuat dari bulu domba menjadi pakaian khas kaum sufi, bulu domba atau wol saat itu bukanlah wol lembut seperti sekarang melainkan wol yang sangat kasar, itulah lambang dan kesederhanaan pada saat itu.
d.      Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani memaknai Tasawuf merupakan singkatan dari huruf ta’ (taubah), Shad (shafa’), wawu (wilayah), fa’ (fana’).
      Huruf ta’ berasal dari kata Taubah yang terbagi dalam taubah zahir dan taubah batin. Huruf Shad berasal dari kata shafa (kejernihan) yang juga terbagi dari dua bagian, yakni kejernihan hati dan kejernihan nurani. Huruf wawu berasal dari kata wilayah (kewalian) yang akan muncul dalam diri seorang sufi setelah kejernihan hati dan nurani. Dan huruf fa’ yang bermakna fana’ lillah (peniadaan diri dalam Allah) dan segala selain Allah.
2.      PengertianmenurutIstilah
a.       Menurut Imam Junaid dari Baghdad (W. 910)
      Mendefinisakan tasawuf sebagai mengambil sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah. Atau keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji.
b.      Menurut Syekh Abul Hasan As Syadzili (W. 1259)
      Mendefinisikan tasawuf sebagai praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan.
c.       Menurut Sahal At Tusturi (W. 245)
      Mendefinisikan tasawuf sebagai orang yang hatinya jernih dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang antara emas dan kerikil.
d.      Menurut Syekh Ahmad Zorruq (1494)
      Mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu yang dengannya anda dapat memperbaikai hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan anda tentang jalan Islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.
e.       Menurut Ibnu Khaldun
      Tasawuf itu adalah semacam ilmu Syar’iyah yang timbul kemudian dalam agama. Asalnya adalah bertekun ibadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah, hanya mengahadap kepada Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta-benda dan kemegahan. Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah.
f.       Menurut Hamka
      Tasawuf ialah membersihakan dari pengaruh benda atau alam supaya mudah menuju kepada Allah.
            Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa basis tasawuf adalah pensucian hati dan penjagaannya dari setiap cedera dan produk akhirnya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara Manusia dan Allah. Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan hati dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah dengan jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad SAW.
B.     Dasar-dasar tasawuf
1.      Al-Qur’an
            Diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan munculnya kezuhudan dan menjadi jalan kesufian adalah ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepada Allah dan hanya berharap kapadanya dan berusaha mensucikan jiwa. Dalam QS. As-Sajadah:16.
            Ayat yang berkenaan dengan kewajiban seorang mu’min untuk senantiasa bertawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah semata serta mencukupkan bagi dirinya cukup Allah sebagai tempat menggantungkan segala urusan, dalam Q.S. At-Thalaq: 2-3.
            Ayat yang berkenaan dengan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia, dalam Q.S. As-Syura:20.
2.      Hadits
            Ajaran tentang kesatuan spiritual yang bisa dicapai dengan suatu perjalanan spiritual memang tidak ada dalam ayat apapun dalam Al-Qur’an. Tetapi secara jelas ayat itu diungkapkan dalam sebuah hadits qudsi, “seorang hamba terus menerus mendekatkan diri kepada-ku dengan melakukan ibadah nawafil hingga aku mencintainya, aku menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengan itu ia melihat, lidah yang dengannya ia berbicara dan tangan yang dengannya ia memegang”.
            Tentang kualitas dan kuantitas ibadah Rasulullah, Aisyah r.a pernah berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW bangun ditengah malam (untuk melaksanakan shalat) sehingga kedua kakinya menjadi lecet. Saya berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah mengapa anda masih berbuat seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang bagimu?” Nabi Muhammad SAW. lalu menjawab:”Salahkahaku jika ingin menjadi hamba yang bersyukur”. Maksud Nabi Muhammad SAW. ialah beliau ingin memberi suri teladan untuk manusia tentang ketangguhan yang tidak mengenal lemah. Selain itu, agar membuat orang berkepribadian seperti itu agar tidak diperbudak kekayaan, kekuasaan dan lainnya yang membuat hal-hal selain Allah menjadi berkuasa.
C.     Sumber-sumber tasawuf
1.      Allah SWT
            Allah merupakan Zat sumber ilmu tasawuf, tidak ada seorangpun yang mampu menciptakan ilmu tasawuf dari selain Zat Allah. Namun Allah mengajarkan secercah ilmunya kepada para sufi lewat hidayah (ilham) baik langsung maupun dengan perantaraan lain selain Allah yang Allah kehendaki.


2.      Rasulullah SAW
            Rasul merupakan sumber kedua setelah Allah bagi para sufi dalam mendalami dan mengembangkan ilmunya, karena hanya kepada rasul sajalah Allah menitipkan wahyu-Nya, tentulah Rasulullah yang banyak tahu tentang sesuatu yang tersirat dibalik yang tersurat dalam Al-Qur’an . semua keterangan hanya di hadits Rasulullah, maka yang kedua sumber ilmu tasawuf adalah hadits (sunnah rasul).
3.      Pengalaman Sahabat
            Setelah merujuk pada referensi Al-Qur’an dan Al-Hadits, referensi selanjutnya bagi aktivitas tasawuf adalah pengetahuan dan tindakan para pengikut setia Rasulullah. Pengalaman spiritual yang diperolehnya sebagai penunjang semua itu.
4.      Ijma’ Sufi
            Kesepakatan para sufi merupakan esensi yang sangat penting dalam ilmu tasawuf, karenanya dijadikan sumber ketiga setelah qur’an dan hadits.
5.      Ijtihad Sufi
            Dalam kesendiriannya, para sufi banyak menghadapi pengalaman aneh, pengalaman itu merupakan guru terbaik, namun Allah memberi akal untuk berfikir semaksimal mungkin sebagai alat pembeda antara kepositifan dan kenegatifan dalam pengalaman.
6.      Qiyas Sufi
            Merupakan penghantar sufi untuk dapat berijtihad secara mandiri jika sedang terpisah dari jama’ahnya.
7.      Nurani Sufi
            Setiap sufi positif, memiliki nurani yang tajam di dalam hatinya, ada yang menyebutnya dengan istilah firasat, rasa, radar batin dan sebagainya merupakan anugerah Allah terhadap kaum sufi, bias dari keikhlasan, kesabaran dan ketawakkalannya dalam beribadah kepada Allah tanpa kenal lelah.
8.      Amalan Sufi
            Kaum sufi memegang teguh rahasia (menyembunyikan) nurani dan amaliyahnyakarena jika ada dua hal tersebut diketahui umum dapat menimbulkan kesalah fahaman, hal ini disebabkan dimensi tariqat (perjalanan) sufi merupakan dimensi batin (roh, rihani, jiwa, sesuatu esensi tersembunyi, gaib) yang tidak semua orang mampu menjalaninya, namun para sufi amat merindukannya disebabkan semata karena cinta kepadaNya.

D.    Esensi tasawuf
1.      Sendi pokok tasawuf Islam dalam tauhid.
2.      Memperoleh kedekatan dengan Allah.
3.      Pola hidup sederhana dengan cara zuhud.
4.      Keseimbangan ruhani dan jasmani manusia.
5.      Mensucikan hati dari hal keburukan.
E.     Macam-macam tasawuf
1.      Tasawuf falsafi
            Adalah tasawuf yang didasarkan kepada gabungan teori-teori tasawuf dan filsafat atau yang bermakna mistik metafisis.
2.      Tasawuf akhlaqi
            Adalah tasawuf yang berkonsentrasi pada teori-teori perilaku, akhlaq atau budi pekerti atau perbaikan akhlaq. Tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlaq yang disusun sebagai berikut:
a.       Takhalli
      Adalah usaha mengosongkan diri dari prilaku dan akhlak tercela.Yangpaling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi.
b.      Tahalli
      Adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, prilaku dan akhlak terpuji.
c.       Tajalli
      Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur tidak berkurang, maka rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum yang rasa kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.
3.      Tasawuf amali
            Adalah tasawuf yang membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Dan tingkatantasawufinidiantaranya:
a.       Syari’at
      Mengenai syari’at ini para ahli sufi lebih menekankan pada aspek hakekat atau makna batiniyah dari ilmu lahiriyah (syari’at) ketimbang para ahli fiqih yang hanya menekankan pada aspek lahiriyah saja.
b.      Thariqat
      Adalah jalan yang ditempuh para sufi dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syari’at, sebab jlan utama disebut syar’i, sedangakan anak jalan disebut dengan thariq.
c.       Ma’rifat
      Adalah kumpulan ilmu pengetahuan, perasaan, pengalaman, amal dan ibadah kepada Allah SWT. Dalam istilah tasawuf ma’rifat adalah pengetahuan yang sangat jelas dan pasti tentang tuhan yang diperoleh melalui sanubari.
F.      Contoh prilaku-prilaku tasawuf
1.      Taubah
            Dalam beberapa literatur ahli sufi ditemukan bahwa maqam pertama yang harus ditempuh oleh salik adalah taubat dan mayoritas ahli sufi sepakat dengan ini. Beberapa diantara mereka memandang bahwa taubat merupakan awal semua maqamat yang kedudukannya laksana pondasi sebuah bangunan. Tanpa pondasi bangunan tidak dapat berdiri, tanpa taubat seseorang tidak akan dapat dekat dengan Allah. Dalam ajaran tasawuf konsep taubat dikembangkan dan memiliki berbagai macam pengertian. Secara literal taubat berarti kembali. Dalam perspektif tasawuf, taubat berarti kembali dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang, berjanji untuk tidak mengulanginyalagi dan kembali kepada Allah.
            Menurut Abu Nashr Al Sarraj taubah terbagi pada beberapa bagian, diantaranya:
a.       Taubatnya orang-orang yang berkehendak (muridin), muta’arridhin, thalibin dan qashidin.
b.      Taubatnya ahli haqiqat (kaum khawwas). Pada bagian ini para ahli haqiqat tidak ingat lagi akan dosa-dosa mereka karena keagungan Allah telah memenuhi hati mereka dan mereka senantiasa berdzikir kepada-Nya.
c.       Taubat ahli ma’rifat (khusus al-khusus). Adapun taubatnya ahli ma’rifat yaitu berpaling dari segala sesuatu selain Allah.
2.      Wara’
            Dalam perspektif tasawuf bermakna menahan diri hal-hal yang sia-sia, yang haram dan hal-hal yang meragukan (syubhat). Hal ini sejalan dengan hadits nabi, “Diantara (tanda) kebaikan keIslaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak penting baginya”. Adapun makna wara’ secara rinci adalah meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat berupa ucapan, penglihatan, pendengaran, perbuatan, ide atau aktivitas lain yang dilakukan seorang muslim.
3.      Zuhud
            Dalam perspektif tasawuf,zuhud diartikan dengan kebencian hati terhadap hal  ihwal keduniaan padahal ada kesempatan untuk meraihnya hanya karena semata-mata taat dan mengharapkan ridha Allah SWT. Inti dari zuhud adalah  keteguhan jiwa, yaitu tidak merasa bahagia dengan kenikmatan dunia yang didapat dan tidak bersedih dan putus asa atas kenikmatan dunia yang tidak didapat.
4.      Al Sabr
            Dalam perspektif tasawuf, Alsabr berarti menjaga adab pada musibah yang menimpanya, selalu tabah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya serta tabah dalam menghadapi peristiwa. Sabar merupakan kunci sukses orang beriman. Sabar itu seperdua dari iman karena iman terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi syukur baik itu ketika bahagia maupun dalam keadaan susah. Makna Alsabr menurut ahli sufi pada dasarnya sama yaitu sikap menahan diri terhadap apa yang menimpanya.
5.      Syukur
            Syukur berarti rasa terima kasih atas nikamt yang telah diberikan, sembari menggunakan nikmat tersebut dijalan yang diridhoi Allah SWT. Syukur tersusun dari ilmu, hal dan amal perbuatan. Ilmu berarti mengetahui nikmat yang diberikan dan pemberi nikmat. Hal berarti gembira atas nikmat yang telah diberikan. Sedangkan amal perbuatan adalah melaksanakan apa yang menjadi tujuan pemberi nikmat.
            Syukur dalam pandangan Ibnu ‘Ata’illah terbagi menjadi 3 macam:
a.       Syukur dengan lisan, yaitu mengungkapkan secara lisan.
b.      Syukur dengan anggota tubuh, yaitu syukur yang diimplementasikan dalam bentuk ketaatan.
c.       Syukur dengan hati, yaitu dengan mengakui bahwa hanya Allah sang pemberi nikmat, segala bentuk kenikmatan yang diperoleh oleh manusia semata-mata dari Nya.
6.      Tawakkal
            Tawakkal merupakan bekal hidup orang beriman yang bisa menjadikan dirinya tabah dalam menghadapi apapun bentuk cobaan atau musibah yang menimpanya. Dengan sikap tawakkal seorang mukmin akan merasa tenang dalam hidupnya.
7.      Ridha
            Ridha berarti sebuah sikap menerima dengan lapang dada dan senang terhadap apapun keputusan Allah terhadap seorang hamba, meskipun hal tersebut menyenangkan atau tidak. Sikap ridho merupakan buah dari kesungguhan seseorang dalam menahan hawa nafsunya.


















KESIMPULAN
1.      Tasawufadalahpensucian hati dan penjagaannya dari setiap cedera dan produk akhirnya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara Manusia dan Allah.
2.      Dasar-dasartasawufadalah Al-Qur’an danHaditsrasul. Sedangkansumberdaritasawufdiantaranya: Allah, rasulullah, pengalamansahabat, ijma’ sufi, ijtihadsufi, qiyassufi, nuranisufidanamalansufi.
3.      Esensidaritasawufdiantaranya:
a.       Sendi pokok tasawuf Islam dalam tauhid.
b.      Memperoleh kedekatan dengan Allah.
c.       Pola hidup sederhana dengan cara zuhud.
d.      Keseimbangan ruhani dan jasmani manusia.
e.       Mensucikan hati dari hal keburukan.
4.      Macam-macamtasawufada 3, yaitu:
a.       TasawufFalsafi
b.      Tasawufakhlaqi
c.       Tasawufamali
5.      Contohperilakutasawufdiantaranya: taubah, wara’, zuhud, al-sabr, syukur, tawakaldanridha.















DAFTAR PUSTAKA

            Muflikhin, Dean dkk. Ulul Albab Membangun Jiwa Mulia, Mengasah Nalar Ilmiah dan Terampil. Mojokerto: 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar